Denganmemanusiakan manusia kita dapat mengakui dan menghargai eksistensi orang lain dengan sesama manusia dan sebagai manusia itulah kita memiliki potensi untuk belajar di dunia pendidikan. Sehingga bila kita mendapatkan beberapa prodi di UM yang terakreditasi A kita boleh berbangga, tetapi hal itu bukan karena kemasan-kemasan akademik Padamanusia hal yang hampir sama juga terjadi. Jika beban pikiran terus menumpuk, maka suatu saat bisa menimbulkan stress. Untuk mengatasi hal tersebut, pada komputer diatasi dengan antivirus. Antivirus akan mendelete (menghapus) virus-virus yang mengganggu sistem kerja komputer. Pada manusia antivirusnya adalah memaafkan. Kelakakan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera. "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta Vay Tiền Nhanh. وَاِنَّهٗ عَلٰى ذٰلِكَ لَشَهِيْدٌۚ العاديات ٧ wa-innahuوَإِنَّهُۥdan sesungguhnya iadhālikaذَٰلِكَyang demikian/itulashahīdunلَشَهِيدٌbenar-benar menyaksikanWa 'Innahu `Alaá Dhālika Lashahīdun. al-ʿĀdiyāt 1007Artinyadan sesungguhnya dia manusia menyaksikan mengakui keingkarannya, QS. [100] Al-'Adiyat 71 Tafsir Ringkas Kemenagdan sesungguhnya dia mengakui dan menyaksikan keingkarannya itu. Hal itu bisa dilihat dari mudahnya manusia bermaksiat kepada Tafsir Lengkap Kemenag3 Tafsir Ibnu Katsir4 Tafsir Al-Jalalain5 Tafsir Quraish Shihab Al-Misbahالقرآن الكريم - العاديات100 7Al-'Adiyat 1007 Tafsir Surat Al Adiyat Surat Al Adiyat ayat 1 Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, Kata al adiyat berasal dari kata adaa – ya’duu yang berarti jauh atau melampaui batas. Dari kata itu muncul berbagai derivasi namun tetap mengandung makna jauh. Misalnya aduw yang artinya musuh. Bermusuhan karena jauhnya hati. Ada pula al aduw yang artinya berlari cepat. Menempuh jarak jauh dalam waktu singkat. Ada pula udwaan yang artinya agresi. Karena yang melakukannya jauh dari kebenaran dan keadilan. Secara harfiah, kata al adiyat berarti yang berlari kencang. Kata ini tidak menjelaskan siapa pelakunya. Menurut jumhur ulama termasuk Ibnu Abbas, artinya adalah kuda yang berlari kencang. Namun menurut Ali bin Abu Thalib, al adiyat di ayat ini adalah unta. Ia berhujjah, pada Perang Badar, kaum muslimin mengendarai unta. Hanya ada dua ekor kuda yang dibawa yakni milik Az Zubair dan Al Miqdad. Sementara yang mayoritas mengartikan kuda berhujjah, sebab sifat-sifat dalam surat ini ada pada kuda, bukan unta. Mulai dari mengeluarkan dengusan nafas saat berlari, hingga mengeluarkan percikan api. Unta secepat apa pun larinya, ia tak bisa menghasilkan percikan api. Kata dhabhan berarti dengusan nafas saat berlari. Ibnu Abbas mengatakan, tidak ada binatang yang mengeluarkan dengusan nafas saat berlari kecuali kuda dan anjing. Ibnu Katsir menjelaskan, dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan menyebut kuda apabila dilarikan di jalan Allah, maka ia lari dengan kencang dan keluar suara dengus nafasnya. Surat Al Adiyat ayat 2 dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan kuku kakinya, Kata al muuriyaat menunjukkan pelaku yang menyalakan api. Dari kata waraa-waryan atau wariya-yarii yang artinya menyalakan api. Kata fa sebelum al muuriyaat menunjukkan bahwa nyala atau percikan api itu merupakan akibat dari berlari kencang. Kata qadhan berasal dari kata qadaha yang artinya mengeluarkan atau memercikkan. Baik air dari kolam, kuah dari mangkuk maupun api dari batu, ia disebut qadhan jika keluarnya sedikit. Karenanya ayat ini dipahami kuda yang berlari kencang hingga menimbulkan percikan api akibat gesekan kakinya dengan batu. Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini “ yakni suara detak teracaknya ketika menginjak batu-batuan, lalu keluarlah percikan api darinya.” Surat Al Adiyat ayat 3 dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, Kata al mughiirat merupakan bentuk jamak dari al mughiir. Berasal dari kata aghaara yang artinya bercepat-cepat melangkah. Dari situ kemudian makna umumnya menjadi serangan mendadak yang dilakukan dengan mengendarai kuda. Kata shubhan artinya adalah waktu subuh. Menggambarkan serangan itu cepat dan mendadak waktunya. “ Yaitu di waktu musuh sedang lengah, lalai atau mengantuk. Angkatan perang itu tiba-tiba datang laksana diturunkan dari langit,” kata Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar. Orang yang mengartikan al adiyat dengan unta, menafsirkan ayat ini sebagai berangkat di waktu Subuh dari Muzdalifah ke Mina. Namun pendapat ini tidak sekuat tafsir tentang kuda perang yang juga merupakan pendapat Ibnu Abbas, Mujahid dan Qatadah. Surat Al Adiyat ayat 4 maka ia menerbangkan debu, Ibnu Katsir menjelaskan, maknanya adalah tempat yang kuda-kuda dan unta-unta itu berada, baik dalam ibadah haji maupun dalam jihad, debu-debuh beterbangan karenanya. Surat Al Adiyat ayat 5 dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. Kata jam’an digunakan dalam Al Quran untuk menunjuk kelompok besar dan selalu menduga akan mampu meraih kemenangan. Menurut Buya Hamka, artinya adalah kumpulan musuh. Sebagian mufassir menjelaskan, lima ayat yang dimulai dengan sumpah Allah ini menggambarkan cepatnya kedatangan kiamat. Laksana serangan mendadak pasukan berkuda di pagi hari pada zaman dulu. Syaikh Adil Muhammad Khalil menjelaskan, sumpah Allah dengan kuda perang dalam lima ayat ini untuk menunjukkan bahwa kuda melakukan itu semua meskipun dengan terengah-engah demi memenuhi kehendak tuannya. Lalu mengapa manusia justru ingkar kepada Allah dan tidak melakukan apa yang diperintahkan demi mendapat ridha-Nya? Surat Al Adiyat ayat 6 Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Kata kanuud merupakan bentuk superlatif dari kata kanada yang artinya tandus. Bentuk superlatif ini menggambarkan betapa besar kekufuran dan keingkaran manusia sehingga tidak mau memberikan bantuan sekecil apa pun. Buya Hamka mengatakan, arti kanuud adalah tidak berterima kasih, melupakan jasa. “ Berapapun nikmat diberikan Allah, ia tidak merasa puas dengan yang telah ada itu bahkan minta tambah lagi. Nafsunya tidak pernah merasa cukup dan kenyang; yang ada tidak disyukurinya, yang datang terlebih dahulu dilupakannya.” Ibnu Katsir menafsirkan, sesungguhnya manusia itu benar-benar mengingkari nikmat-nikmat Tuhannya. Surat Al Adiyat ayat 7 dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan sendiri keingkarannya, Kata syahiid berasal dari syahida yang artinya menyaksikan. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, sesungguhnya manusia itu benar-benar menyaksikan sendiri mengakui keingkaran dirinya melalui sepak terjangnya. Terlihat jelas dari ucapan dan perbuatannya. Surat Al Adiyat ayat 8 dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Kata al khair juga punya arti kebaikan. Namun di ayat ini, artinya adalah harta benda. Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menegaskan makna ini sebagaimana firman Allah pada Surat Al Baqarah ayat 180. Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan tanda-tanda maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. QS. Al Baqarah 180 Kata syadiid berasal dari kata syadda yang bisa berarti menguatkan ikatan. Karena ikatannya dengan harta sangat kuat, ia enggan untuk melepaskannya. Ia menjadi sangat bakhil. Ada dua penafsiran ayat ini. Pertama, sesungguhny manusia itu sangat mencintai harta. Kedua, sesungguhnya karena kecintaannya kepada harta membuatnya jadi kikir. Ibnu Katsir membenarkan kedua penafsiran ini. Surat Al Adiyat ayat 9 Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, Kata bu’tsira awalnya bermakna membolak-balik sesuatu. Kata ini memberi kesan kegelisahan dan ketergesaan. Misalnya membolak-balikkan lemari karena mencari sesuatu. Dalam kubur nanti, dicari dan dibongkar dengan ketergesaan hingga gelisahlah isi hati yang dibongkar. Menurut Ibnu Katsir, maknanya adalah dikeluarkannya orang-orang yang telah mati dari dalam kuburnya. Az Zuhaili juga menafsirkan, orang-orang yang di dalam kubur akan dibangkitkan. Begitu pula Sayyid Qutb dan Buya Hamka. Surat Al Adiyat ayat 10 dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, Kata hushshila memiliki arti memisahkan, mengemukakan atau menghimpun. Kata ash shuduur merupakan bentuk jamak dari ash shadr yang artinya dada. Maknanya adalah hati manusia. Menurut Ibnu Abbas, maknanya adalah apabila dilahirkan dan ditampakkan apa yang selama itu mereka sembunyikan dalam hati. Surat Al Adiyat ayat 11 sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka. Kata khabir berasal dari khabar yang artinya pencarian untuk mencapai pengetahuan yang pasti tentang hakikat sesuatu. Jika dipakai sebagai sifat Allah, ia mengandung arti pengetahuan-Nya menyangkut hal-hal yang detil serta tersembunyi, betatapun kecilnya sesuatu dan betapapun tersembunyi, pasti diketahui Allah. Assalamualaikum sahabat-sahabat… Kali ini, kita akan membahas penjelasan dan tafsir Surat Al-Adiyat. Surat yang tergolong pendek. Ayatnya berjumlah 11 ayat. Surat Al-Adiyat ini Makkiyah ayat yang diturunkan sebelum hijrah. Hal ini sesuai dengan pendapt Imam Ibnu Katsir. doc. saif Tapi, juga ada yang mengatakan, Surat Al-Adiyat ini Madaniyah surat yang diturunkan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Oleh karenanya, dalam tafsir Jalalain, Surat Al-Adiyat ini disebut dengan Makkiyah atau Madaninyah. Begitulah sekilas penjelasan tentang Surat Al-Adiyat ini. Sebab Turunnya Surat Al-Adiyat Dalam tulisan “penjelasan dan tafsir Surat Al-Adiyat” ini penting kiranya ditulis juga asbab an-nuzulnya. Imam Nawawi al-Bantani dalam kitabnya, Marah Labid, mengutip sebuah hadis yang menjelaskan sebab turunnya Surat Al-Adiyat ini. Diriwayatkan, أنه صلّى اللّه عليه وسلّم بعث خيلا فمضى شهر لم يأته منهم خبر ، فنزلت هذه الآيات “Sesungguhnya Rasulullah saw. mengirim pasukan berkuda. Lalu, lewatlah satu bulan tidak ada kabar mengenai pasukan berkuda nabi itu. Lalu, turunalah ayat ini Surat Al-Adiyat.” Begitulah sebab turunnya Surat Al-Adiyat dalam tulisan “penjelasan dan tafsir Surat Al-Adiyat” ini. Surat Al-Adiyat بسم الله الرحمن الرحيم وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا 1 فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا 2 فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا 3 فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا 4 فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا 5 إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ 6 وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ 7 وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ 8 أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ 9 وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ 10 إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ 11 Arti Surat Al-Adiyat 1. Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, 2. dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan kuku kakinya, 3. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, 4. maka ia menerbangkan debu, 5. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, 6. sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, 7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan sendiri keingkarannya, 8. dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. 9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, 10. dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, 11. sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka. Keutamaan Membaca Surat Al-Adiyat Keutamaan membaca Surat Al-Adiyat juga besar sekali. Hal ini sebagaimana dikutip oleh banyak ulama tafsir. Syaikh Nawawi al-Banteni juga mengutip hadis ini. Rasulullah bersabda, من قرأها أعطي من الأجر بعدد من بات بالمزدلفة وشهد جمعا» “Barangsiapa yang membaca Surat Al-Adiyat, maka akan diberi pahala sesuai hitungan orang yang mabit di Muzdalifah dan orang yang menghadiri sebuah perang.” Begitulah keutamaan membaca Surat Al-Adiyat yang dapat penulis kutip dalam tulisan “penjelasan dan tafsir Surat Al-Aidyat” ini. Penjelasan dan Tafsir Surat Al-Adiyat Tafsir Surat Al-Adiyat; Demi Kuda yang Berlari وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا 1 Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, Allah bersumpah dengan kuda yang berlari cepat dalam perang. Sehingga nafas kuda itu berbunyi. Menurut Imam As-Shawi, ayat ini sebagai kinayah untuk memuji dan mengangungkan orang yang berperang. Ini sumpah yang pertama dalam tulisan “penjelasan dan tafsir Surat Al-Adiyat” ini. فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا 2. dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan kuku kakinya, Allah juga bersumpah demi kuda yang memercikkan api dengan kuku kakinya. Ketika kuda berlari cepat dan kuku kakinya menginjak batu-batu dan krikil, memerciklah api. Menurtu Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, api dalam ayat ini sama dengan api yang dinyalakn oleh seorang Arab. Ceritanya begini, ada seorang laki-laki orang Arab. Dia ikut dalam pertempuran. Tapi, dia sangat kikir. Dia tidak mau menyalakan api kecuali orang-orang sudah tertidur. Jika mereka terbangun, maka api itu dipadamkan. Agar teman-temannya tidak merasakan menfaat api itu. Lalu, Allah menyamakan api yang menyala dari kaki kuda dengan api yang dinyalakan oleh laki-laki Arab itu. Kesamaannya adalah sama-sama tidak bermenfaat. Begitulah penjelasan ayat kedua dalam penjelasan dan tafsir Surat Al-Adiyat ini. فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا 3. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, Ini sumpah yang ketiga. Allah bersumpah demi kuda yang menyerang tiba-tiba. Serangan itu dilakukan saat pagi agar musuh tidak memiliki persiapan yang matang. فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا 4. maka ia menerbangkan debu, Lalu, setelah kuda itu menyerang, maka bertebaranlah debu-debu karena gerakannya yang dahsyat. Debu itu berterbangan di tempat musuh. Juga bisa dikatakan, debu itu berterbangan di waktu pagi. فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا 5. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, Kuda-kuda itu menyerbu musuh sehingga tiba di tengah-tengah mereka. Lalu musuh itu terpecah-pecah. Kekuatannya hancur. Lalu, kenapa Allah bersumpah dengan kuda-kuda yang memiliki kriteria di atas? Menurut Syaikh Al-Maraghi dalam tafsirnya, Allah memiliki beberapa tujuan tertentu untuk hal itu. Pertama, agar menjadi inspirasi bagi orang-orang yang beriman sehingga mereka menjadi orang yang sungguh-sungguh dan bersemangat. Kedua, agar orang yang beriman melatih kuda untuk berlari. Ketiga, agar orang yang beriman berlatih menunggang kuda sehingga siap bertempur ketika terpaksa berperang. Keempat, orang yang beriman wajib memiliki kuda dengan tujuan di atas yang mana menfaatnya sangat banyak. Bukan untuk sombong-sombongan atau hanya hiasan. Untuk zaman sekarang, bisa jadi yang lebih relevan bukanlah kuda. Tapi, alat-alat perang yang lain. Misalnya pesawat tempur, tank, dan lain-lain. Karena kuda sudah tidak lagi digunakan dalam pertempuran. Intinya, umat Islam juga harus siap bertempur. Umat Islam harus memiliki kekuatan agar tidak diinjak-injak oleh musuh. Tentu, kekuatan tersebut tidak hanya senjata perang. Bisa juga kekuatan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan seterusnya. Tafsir Surat Al-Adiyat; Sungguh Manusia Itu Tidak Bersyukur إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ 6. sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Sungguh manusia itu tidak tahu berterimakasih. Yang dimaksud manusia dalam ayat ini adalah orang kafir. Berarti maksudnya, orang kafir itu sungguh tidak bersyukur kepada Allah. Menurut Syaikh Shawi dalam tafsirnya, ada ulama tafsir yang mengatakan bahwa yang dimaksud manusia dalam ayat ini jenis. Artinya semua manusia itu memiliki potensi besar untuk tidak bersyukur dan tidak tunduk kepada Tuhannya. Mereka yang bersyukur kepada tuhannya adalah mereka yang mendapatkan pertolongan dari Allah. Yaitu mereka yang melatih dirinya untuk melakukan hal-hal yang terpuji dan meninggalkan hal-hal yang tercela. Adapun arti kanud كَنُودٌ dalam ayat di atas adalah kufur nikmat atau tidak mensyukuri nikmat. Hal ini sesuai dengan sebuah hadis, الكنود الذي يأكل وحده ، ويضرب عبده ، ويمنع رفده “Al-Kanud adalah orang yang hanya makan sendirian, memukul budaknya, dan mencegah untuk memberi tidak bersedekah” Maksud hadis ini adalah ada orang yang tidak memberikan bersedekah sedikit pun dari nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Dia juga tidak memiliki rasa kasih sayang sama sekali kepada hambanya. Orang seperti ini disebut kanud. Orang seperti ini adalah orang yang tidak bersyukur kepada Allah. Dia kufur nikmat. Begitulah kata Syaikh Al-Maraghi ketika menjelaskan tafsir Surat Al-Adiyat ayat enam ini. Lebih lanjut Syaikh Al-Marghi mengatakan, seseorang bisa memiliki karakter di atas disebabkan melupakan dua hal; masa lalu dan masa depan. Dia hanya fokus pada apa yang di depan mata. Dia lupa masa lalunya yang penuh perjuangan, tangisan, dan doa yang dipanjatkan. Dia juga lupa pada masa depan sesungguhnya, yaitu akhirat. Ada juga yang mengatakan, yang dimaksud al-kanud dalam ayat ini adalah orang yang hanya menghitung musibah dan lupa pada nikmat yang diberikan Allah. Menurut Imam Fudail bin Iyad sebagaimana dikutip oleh Imam al-Khazin dalam tafsirnya, yang dimaksud al-kanud adalah orang yang melupakan ribuan kebaikan hanya karena satu keburukan. Kebalikan dari al-kanud ini adalah syakur. Yakni, orang yang banyak bersyukur kepada Allah swt.. Begitulah penjelasan dan tafsir Surat Al-Adiyat ayat enam ini. Lanjut ya… وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ 7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan sendiri keingkarannya, Sungguh Allah menyaksikan atas semua itu. Allah tahu pada orang-orang yang tidak bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan oleh-Nya. Ayat ini juga bisa diartikan bahwa manusia itu sendiri yang bersaksi atas kelakuannya. Yakni, pekerjaan dan perbuatannya di dunia menunjukkan bahwa dia orang yang tidak bersyukur. وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ 8. dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat ini memiliki dua makna. Pertama, manusia sangat mencintai harta. Kedua, manusia sangat kikir disebabkan mencintai harta. Dua makna ini sama-sama benar. Syaikh al-Maraghi juga mengatakan ketika menjelaskan tafsir Surat Al-Adiyat ayat 8 tersebut bahwa manusia sangat mencintai harta sehingga kikir luar biasa. Tafsir Surat Al-Adiyat; Ketika Isi Hati Tak Bisa Ditutupi Setelah menjelaskan manusia yang memiliki kondisi seperti di atas, Allah menunjukkan bagaimana seharusnya seorang manusia. Allah memberi petunjuk agar manusia senang akhirat, tidak terlalu cinta dunia, dan mengingat masa depan yang sesungguhnya. Yakni akhirat. Kita lanjut ke penjelasan tafsir Surat Al-Adiyat ayat berikutnya ya… Allah berfirman, أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ 9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, Ayat ini bertanya, apakah manusia yang tidak bersyukur di atas tidak tahu bahwa kelak mereka akan dibangkitkan dari kubur? Ya, semua manusia akan dibangkitkan dari kubur. Lalu, mereka akan dihisab dan dibalaslah semua perbuatannya. وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ 10. dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, Ayat ini menjelaskan, kelak isi hati akan diungkapkan. Apa yang disimpan dalam hati akan ditampakkan. Tidak bisa disembunyikan lagi. Entah itu keburukan atau kebaikan. Lalu, kenapa Allah menyebut isi hati secara khusus dalam Surat Al-Adiyat ini? Menurut Imam Khazin dalam tafsirnya, anggota tubuh itu ikut hati. Anggota tubuh tidak bisa melakukan apa-apa kecuali ada keinginan yang menggerakkan. Keinginan ini tempatnya dalam hati. Benarlah kata Rasulullah, jika hati ini baik, maka biak pulalah semua jasad kita. Termasuk amal perbuatan yang dilakukan oleh jasa kita. Begitulah penjelasan tafsir Surat Al-Adiyat ayat 10 ini. إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ 11. sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengetahui kondisi umat manusia kala itu. Yakni, di hari kiamat. Apakah di selain hari kiamat Allah tidak mentetahui? Ya mengetahui juga. Hanya saja ayat ini menegaskan bahwa Allah akan membalas semua perbuatan manusia di waktu itu. Menurut Sayid Thontowi dalam tafsirnya, Al-Wasith, tiga ayat terakhir dalam Surat Al-Adiyat ini mengajarkan tiga hal. Pertama, memberi peringatan kepada kita yang tidak bersyukur. Kedua, memotivasi kita untuk bertafakkur dan i’tibar merenung. Ketiga, mengingat kedahsyatan hari kiamat. Itulah penjelasan dan tafsir Surat Al-Adiyat. Semoga kita bisa merenungi dan mengamalkannya. Amin! Referensi Tafsir Hasyiyah as-Shawi Tafsir Ibnu Katsir Tafsir Al-Maraghi Tafsir Al-Wasith Tafsir Marah Labid Tafsir Al-Khazin

sesungguhnya manusia akan menyaksikan sendiri